Connect with us

Mengenal Dune, Sang Pencetus Game RTS yang Kurang Begitu Dihargai

Dune Game

Best of the Best

Mengenal Dune, Sang Pencetus Game RTS yang Kurang Begitu Dihargai

Nama “Dune” baru saja muncul kembali di permukaan. Mulai bangkit lagi dalam bentuk film hollywood yang siap dibawa ke layar lebar oleh pihak Warner Bros, siapa yang menyangka bila franchise Dune awalnya benar-benar memegang peranan besar dalam mencetuskan keberadaan genre Real Time Strategy di dunia video game ?

Banyak dari kalian mungkin lebih mengenal Command and Conquer hingga Warcraft ketika tengah merenungkan hal tersebut. Padahal, Dune sebenarnya juga tak kalah pantas mendapat kredit atas berbagai terobosan yang dibawakannya.

 

Berawal dari sebuah buku novel

Jauh sebelum franchise game ini mulai tercipta, Dune ialah sebuah karya novel science-fiction ciptaan Frank Herbert di tahun 1965. Pada intinya, cerita dalam Dune selalu berpusat tentang adanya sejumlah kelompok faksi besar (Atreides dan Harkonnen) yang tengah saling bersaing untuk memperebutkan sumber daya yang berharga di sebuah planet gurun bernama Arrakis.

Lewat premis yang penuh nuansa politis tersebut, Dune sukses menahbiskan dirinya sebagai contoh dari bagaimana sebuah genre science-fiction itu bisa lahir dan tumbuh. Bahkan sebelum franchise Star Wars mulai mampu dalam meneruskan hegemoni itu. Dari buku Novel, Dune akhirnya diangkat ke dalam versi layar lebar pada tahun 1984 silam.

Walau berakhir sebagai sebuah film yang flop lewat jumlah keuntungan kotor yang tak sebanding dengan modalnya, franchise ini untungnya masih mempunyai kesempatan untuk berkibar di ranah industri video game.

 

Tidak langsung hadir sebagai game RTS

Dune 1 game

Ide untuk mengadaptasi franchise Dune ke video game awalnya berangkat dari ide publisher bernama Virigin Games. Martin Alper selaku presiden Virgin Games yang dikenal pernah berperan sebagai voice actor dari EVA dari game Red Alert mengaku menyimpan suatu ketertarikan terhadap Dune.

Dari sana, Virgin resmi menunjuk sekaligus memberikan Cyro Interactive kebebasan untuk mengemas Dune sebagai suatu produk video game. Pada saat itu, Cryo masih belum punya ide dalam menjadikan game ini sebagai game yang sepenuhnya bergenre RTS.

Seri game Dune yang pertama justru merupakan game menggabungkan unsur strategi, penjelajahan ala game RPG serta simulasi secara real time. Untuk ukuran game yang rilis di tahun 1992 silam, game ini terhitung sukses dari segi komersil.

 

Seri kedua sebagai puncak

Sukses dengan game pertama, di tahun yang sama (1992), Westwood Studios yang selama ini jauh lebih diakui dalam menciptakan seri Command and Conquer akhirnya telah langsung mengembangkan keberadaan game Dune II.

Hadir benar-benar dalam wujud RTS dan masih dinaungi oleh pihak Virgin Games, game ini diketahui mengambil inspirasi dari game Sega Genesis Herzog Zwei serta bentuk interface dari Software yang lebih membutuhkan banyak peran dari Mouse ketimbang keyboard.

Dari konsep tersebut, Westwood berhasil membawa sebuah keimersifan baru di dalam sebuah game yang bertemakan perang. Walau Herzog Zwei lebih dahulu memulainya, Dune II punya suatu pesona pakem yang benar-benar sangat mempengaruhi hadirnya perkembangan game-game RTS selanjutnya.

Konsep untuk membangun base (fasilitas), lalu mencari serta mengelola resource (bernama “Spice”) demi bisa mengakomodir kebutuhanmu dalam menyediakan berbagai jenis pasukan yang kuat plus besar adalah hal utama yang selalu melekat.

 

Atreides, Harkonnen, dan Ordos… ?

Ketiga nama yang kami sebut di atas merupakan nama faksi utama yang dimunculkan dalam franchise game Dune versi RTS. Pada versi novel, Atreides dan Harkonnen adalah kumpulan faksi yang paling sering dibicarakan karena sejarah persaingan konflik yang begitu panas satu sama lain.

Sedangkan Ordos sendiri merupakan faksi yang aslinya tak pernah diceritakan dalam novel dan hanya dibahas dalam buku Dune Encyclopedia yang termasuk non-canon. Faksi yang satu ini boleh dibilang cukup unik. Karena fokus agendanya adalah hanya demi memperkaya diri mereka sendiri dengan melakukan berbagai banyak aksi penyelundupan, penyabotasean dan perdagangan barang-barang yang terlarang.

Sementara Atreides menjadi faksi yang lebih berasa seperti tokoh protagonis bersama dengan Harkonen yang berperan sebaliknya.

 

Hadirkan seri baru dan remake yang tak terlalu berhasil

Seri Dune II tidak hanya sukses menghadirkan sebuah pakem solid dalam mengembangkan genre real time Strategy, seri game ini juga benar-benar populer serta memiliki raihan penjualan yang fantastis. Yakni dengan berhasil melampaui 250.000 unit penjualan sampai pada tahun 1996.

Di tahun 1998, franchise Dune telah muncul kembali lewat seri remake yang berjudul Dune 2000. Dengan grafis yang lebih diperbaharui, sayangnya game ini disambut dengan resepsi yang tidaklah sebaik dari versi originalnya (Dune II), namun game masih tetap tergolong cukup layak untuk dimainkan apabila kamu lebih menyukai bentuk grafis yang lebih halus dan penuh gradasi.

Walau masih jauh dari kata buruk dan secara menarik menghadirkan sejumlah terobosan seperti fitur multiplayer cutscene yang bernuansakan FMV, Dune 2000 tetap tidaklah terlalu banyak membawakan inovasi yang berarti dari segi gameplaynya.

Dimana pada 2 atau 3 tahun sebelum game ini rilis, Command and Conquer dan Red Alert sudah lebih dulu muncul untuk menggebrak genre RTS lewat setting tema segar (alternate reality) yang dibawanya.

Selain Dune 2000, keberadaan seri Emperor: Battle For Dune di tahun 2001 juga tidaklah mampu dalam banyak mengangkat lagi kepopuleran nama franchise Dune di era abad 21. Game RTS terakhir dari franchisenya itu kembali dikritisi karena tampilan UI-nya yang begitu aneh plus juga dengan persoalan miskinnya inovasi yang tersuguh di dalamnya.

Padahal, game tersebut pada dirilis melalui bendera EA selaku publisher serta masih ditangani oleh Westwood Studios.

 

Akhir dari riwayat Dune

Sejak saat itu, franchise Dune seolah sudah tidak lagi bersemangat dalam membawakan sebuah genre RTS. Setting dunia yang sungguh hanya dibataskan di planet gurun Arrakis serta monster alien berbentuk cacing tanah rakasasa yang ikonik seolah membuat Cyro (developer dari game Dune 1) untuk lebih berinisiatif melanjutkan seri game Dune secara lebih khusus lewat judul Frank Herbert’s Dune di akhir tahun 2001.

Game bergenre adventure ini sayangnya benar-benar tampil sebagai game yang sangat flop. Terutama melalui kondisi finansial Cyro yang berada pada ambang palilit (bangkrut), hal itu pun sontak langsung mengakhiri kiprah franchise sci-fi klasik ini di ranah video game.

 

Apakah game Dune sudah tidak akan pernah ada lagi ?

End of Dune Game

Tentu bukanlah pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Namun dengan hadirnya versi adaptasi layar lebar yang akan tayang di akhir 2020 nanti, kemungkinan apapun masih sangat terbuka. Entah dalam Pesona RTS maupun yang lainnya, siapapun yang masih ingat terhadap franchise Dune pastinya tidak akan tinggal diam begitu saja.

Sekarang pertanyaannya, apakah kamu adalah salah satunya ?

Continue Reading
Avatar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top